Posts

Kata pendamping dialog tag

Hai hai, sahabat sastra... Apa kabar? Ketemu lagi sama saya. 😊 Kalian tahu 'kan dialog tag? Pasti udah pada tahu, jadi ga perlu saya kasih tahu ya, hehe. Karena yang mau saya bahas kali ini bukan tentang dialog tag, tapi tentang kata sebut saja pendamping dialog tag biar lebih mudah mengingatnya. Apa itu? Itu loh, kata yang setelah dialog, seperti ; ujar, kata, ucap, tanya, seru, dan lain sebagainya. Loh, ngapain bahas gituan? Eittss... Jangan salah, kata pendamping dialog ga bisa dipakai sembarangan loh, mesti dipakai pada dialog yang tepat. Ini ada contoh penggunaan yang salah. "Ya Allah, mengapa hidupku jadi seperti ini.... " jeritku dalam hati. Ga enak kan ya, beda lagi kalau gini ; "Ya Allah, mengapa hidupku jadi seperti ini," lirih batinku. Lebih berasa 'kan dialog sedihnya? Selain itu, kita juga mesti pintar-pintar menggunakan kata pendamping dialog agar dialog kita ga monoton, misal nih pada percakapan santai seperti contoh in...

Puisi Patidusa

Hai hai... sahabat sastra, Admin bawa karya lagi nih. Hasil challenge membuat puisi patidusa dengan tema bebas. Dan ini tiga karya terpilih, keren dan ajib lohh karyanya. Yuks intipin bareng-bareng. Penjara Amrul Mubarok Keras Terbentak menggelegar Mengoyak setiap pendatang Tanpa ampun siap diterjang Gelap Tanpa jendela Udara enggan memasukinya Penuh derita tanpa gelisah Kesunyian teman dalam kesendirian Bising hanyalah harapan Semua menghilang Senyap Lamunan menjadi fardhu keseharian Menanti terbukanya kenikmatan Harapan konyol Hampa Titimangsa : Sidoarjo,30 Oktober 2017 ### Hampa Lun 🐌 Degup nyata tak berirama Tampakan sesak nyata Wujud tawa Hampa Seumpama rumpang pada sempurna Kisah kita berlogika Kabur rasa Hampa Celoteh burung tirai rasa Memaksa memori terbuka Terikat nyata Hampa Sisa sketsa pada meja Mendamba rasa tak sengaja Akan lupa Hampa Jember,  30 Oktober 2017 ### Romantika Terpisah Anarchia58 Malam ini angin menyapa ...

Merdeka yang Sesungguhnya

Admin memiliki cerpen bagus nih buat mengenang para pahlawan kita. Cerpen ini karya dari salah satu member kita, sebagai jawaban dari tantangan mendeskripsikan gambar. Hasilnya memukau, dan syarat akan pesan moral. Rugi kalau ga dibaca. Selamat membaca....  :) Merdeka yang Sesungguhnya Satu, dua, tiga, empat, lima, ... Kuhitung setiap pijakkan kaki yang terhempas ke bumi. Sebuah tanda kebebasan sudah teraih, meninggalkan masa 72 tahun silam. Seorang bocah, punggawa masanya, membawa ranting mengibarkan bendera sang merah putih tanpa rasa was-was, waspada, ataupun takut. Belenggu itu telah koyak. Kemerdekaan mungkin sudah layak untuk dikatakan, meski  pembangunan mesti terus digelakkan. Bocah pembawa lambang kedaulatan negara itu, begitu ceria. Panorama indah menyulut mata pun seakan kontras dengan rasa kebanggaannya pada negeri. Salah satu tabiat bangsa yang patut dipertahankan.      Aku pun menghentikan langkahku, dan duduk di bibir sungai pengairan irig...

Cerita Si Rapuh

Kini hitam putih jadi abu-abu Sang dandelion murung tersendu Terlihat rapuh Tak utuh Angin pujaan hati Belum jua ia berlayar ke mari Dandelion sedih Merasa perih Dia sendirian di kota gersang Bercahaya dan berbayang Berharap angin cepat kembali Menjemputnya untuk benih baru pergi Tak perlu angin khusus katanya Persetan, angin apa saja! Iya si rapuh itu bernyanyi Tentang hidup menikmati mati Karya Anarchia58 Palembang, 25 Oktober 2017

Quotes Of the Day

Ini tiga quotes terpilih dari challenge mingguan "Membuat quotes bertema Menulis" dari grup Cakap-Cakap Sastra. Menulislah tanpa harus menuntut sebuah pujian. Tapi, teruslah menulis untuk sebuah kesenangan. Quotes by. Siti Marfuatun Air mata, amarah, ataupun tertawa yang membuatmu gila. Semua emosi bisa kau alihkan kepada tinta dan kertas. Jadi menulislah agar kau tak gila. Quotes by. Anarchia58 Menjadi musuh sebuah pena lebih mngerikan dibanding menjadi musuh seribu raja. Quotes by. Aurora Bagi kamu yang ingin bergabung bersama keluarga besar Cakap-Cakap Sastra, bisa klik tautan di bawah ini. https://chat.whatsapp.com/3mUqjPzKWSz0RkxU8pKDB1

Memoar Kekasih Takkan Tersisih

Kau ingat, bagaimana dulu kita membuat mereka cemburu? Saat kubuka tirai, lalu cahaya mentari menelusup ke balik jendela menyapamu dengan kehangatannya. Namun, kau masih saja terlelap. Lebih tepatnya kau sengaja tak membuka mata demi mendapat elusan lembut di pipi. Saat itulah sang mentari cemburu padaku, karena kau lebih menginginkanku yang membangunkanmu. Kau ingat, saat kuelus pipimu kemudian tanganmu merangkul tubuh mungilku. Mataku dan matamu beradu sendu, saat itulah langit-langit kamar cemburu padaku karena kau lebih menginginkan aku dalam pandanganmu. Aku tak pernah melupakan saat kecupan lembut kau daratkan di keningku. Saat itu secangkir teh hangat yang kusiapkan untukmu cemburu padaku, karena kau tak pernah tergoda oleh semerbaknya aroma melati yang ia tawarkan demi mendapatkan kecupan lembutmu di sisi cangkirnya. Lalu, tangan kekarmu mendekap aku dengan sangat erat dan mengabaikan selimut yang menghangatkanmu sepanjang malam. Saat itulah selimut pun menaruh iri padaku. ...

Ibu dan Senja Beradu Pilu

Sapa ombak membasahi pinggir lautan, menyetubuhi pasir di pinggiran, kuambil sejumput air pantai, membelai lembut wajah kusam, beraromakan asap jalanan. Ranting pohon kering terjatuh, angin membangunkannya 'tuk ikut menari. Burung bersahutan memanggil, menyapa senja yang sedang dirundung pilu. Burung gereja bertanya padanya, "Mengapa kau terlihat muram, Senja?" Tak ada jawab darinya, seketika langit menurunkan rintik gerimis, disusul pelangi kala gerimis terhenti. Kuamati dari bibir pantai, memang senja terlihat tak seperti biasanya sore ini. ' Apakah ia melihat lakuku menyakiti ibu saat itu?' batinku mulai berkecamuk. "Senja saja tak terima, apalagi ibu yang langsung kusakiti oleh perkataan kasarku?" Terima kasih, Senja. Dikau turut mengingatkan kesalahanku. Sepasang kaki lemas tak kuasa menopang kesedihan dan penyesalan. Bergegas berlari, kembali menuju ibu. Sesampainya di rumah, tak sengaja kulihat beliau sedang memunguti satu persatu nasi yang tad...