Kata pendamping dialog tag
Hai hai, sahabat sastra... Apa kabar? Ketemu lagi sama saya. 😊
Kalian tahu 'kan dialog tag? Pasti udah pada tahu, jadi ga perlu saya kasih tahu ya, hehe. Karena yang mau saya bahas kali ini bukan tentang dialog tag, tapi tentang kata sebut saja pendamping dialog tag biar lebih mudah mengingatnya. Apa itu? Itu loh, kata yang setelah dialog, seperti ; ujar, kata, ucap, tanya, seru, dan lain sebagainya.
Loh, ngapain bahas gituan?
Eittss... Jangan salah, kata pendamping dialog ga bisa dipakai sembarangan loh, mesti dipakai pada dialog yang tepat.
Ini ada contoh penggunaan yang salah.
"Ya Allah, mengapa hidupku jadi seperti ini.... " jeritku dalam hati.
Ga enak kan ya, beda lagi kalau gini ;
"Ya Allah, mengapa hidupku jadi seperti ini," lirih batinku.
Lebih berasa 'kan dialog sedihnya?
Selain itu, kita juga mesti pintar-pintar menggunakan kata pendamping dialog agar dialog kita ga monoton, misal nih pada percakapan santai seperti contoh ini ;
"Aku mau makan," ucap Ghea.
"Aku juga," ucap Andin.
"Makan bareng, yuk," ucap Siska.
"Ayuk, makan bakso ya," ucap Ghea kembali.
Kan males ya bacanya klo gitu, beda lagi klo kata ucap kita variasikan dengan kata yang semakna.
"Aku lapar," ucap Ghea.
"Aku juga," sahut Andin.
"Makan bareng, yuk," timpal Siska antusias
"Ayuk. Makan bakso ya!" seru Ghea semangat.
Bagaimana? Ga bosen kan kalau divariasikan dengan kata pendamping lainnya. Yang penting satu, pehatikan kecocokannya dengan dialog seperti contoh yang pertama.
Ini ada beberapa penjelasan singkat versiku
Lirih -> dipakai untuk sebuah dialog yang sedih, dan menggambarkan sedikit tangisan.
Jerit -> dipakai untuk penggambaran dialog yang penuh emosi. Misal, "Aku lelah, Tuhan!" jerit Andin. Pakai tanda seru biar emosinya lebih dapet.
Seru -> biasanya dipakai untuk dialog yang berupa ajakan atau perintah.
Tanya -> untuk kalimat tanya.
Ujar, kata, ucap. -> untuk dialog biasa, pintar-pintar kita yang memantaskan.
Sahut -> dipakai untuk menyahuti dialog sebelumnya.
Jawab -> dipakai untuk dialog jawaban atas sebuah pertanyaan.
Bentak -> dipakai untuk kalimat berupa bentakan.
Timpal -> ini dipakai untuk menimpali ucapan lawan. Misalnya ;
"Aku mau bakso dong, Bang," ucap Dita pada penjual bakso.
"Aku juga, Bang. Ga pake sambel," timpal Ucon.
Nah, segitu dulu ya. Kelihatan ga penting, tapi ternyata masih ada yang salah kaprah dalam penggunaannya.
Oke, sampai jumpa di tulisan selanjutnya.
Salam literasi kami Komunitas Cakap-Cakap Sastra 🙏
Comments
Post a Comment