Merdeka yang Sesungguhnya

Admin memiliki cerpen bagus nih buat mengenang para pahlawan kita. Cerpen ini karya dari salah satu member kita, sebagai jawaban dari tantangan mendeskripsikan gambar. Hasilnya memukau, dan syarat akan pesan moral. Rugi kalau ga dibaca. Selamat membaca....  :)

Merdeka yang Sesungguhnya

Satu, dua, tiga, empat, lima, ... Kuhitung setiap pijakkan kaki yang terhempas ke bumi. Sebuah tanda kebebasan sudah teraih, meninggalkan masa 72 tahun silam. Seorang bocah, punggawa masanya, membawa ranting mengibarkan bendera sang merah putih tanpa rasa was-was, waspada, ataupun takut. Belenggu itu telah koyak. Kemerdekaan mungkin sudah layak untuk dikatakan, meski  pembangunan mesti terus digelakkan. Bocah pembawa lambang kedaulatan negara itu, begitu ceria. Panorama indah menyulut mata pun seakan kontras dengan rasa kebanggaannya pada negeri. Salah satu tabiat bangsa yang patut dipertahankan.

     Aku pun menghentikan langkahku, dan duduk di bibir sungai pengairan irigasi. Kubuka lembaran perenungan pengobar sejarah. Ingatanku pun rutin menggerayangi kisah sejarah Indonesia, hingga teringat para pejuang pada masanya. Menuntut kemerdekaan tanpa mengiba. Berderet, berjejer mematuhi para kompeni. Patuh, hanya itu yang terlintas, guna menanggulangi konflik berkepanjangan. Di setiap kompi kumpulan, terkesan mengontrol sistem kemasyarakatan kita yang harmonis. Kolonial imperialisme, membawa petaka. Tak-tik adu domba antar bangsa terpetakkan dengan pembuatan pemerintah negara satu dengan yang lainnya, meski masih satu pulau. Sebuah imperialisme, pemecah belah bangsa.

     Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri, kutipan dari presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno. Membawaku pada masa patriot bangsa, menegakkan bambu runcing melawan penjajahan dengan gagah berani. Aku pun seakan masuk ke tempat mereka. Kilas balik sejarah dalam renungan imajinasiku, menumpahkan merahnya darah sebagai bukti bakti kepada negara. Putihnya awan, sebagai saksi bisu kesucian perlawanan mereka meraih kemerdekaan.

"Merdeka atau mati!" Terdengar riuh, hingga terngiang memusat ke Hati. Seruan Bung Tomo, sebagai motifasi dan tameng diri yang mulai goyah akan gempuran merusak kota-kota. Rasa kehilangan mendera psikis, namun perjuangan belum berakhir. K. H. Subchi, pria yang terlahir di Perakan, Temanggung, Jawa Tengah itu, seorang penggagas munculnya perlawanan memakai bambu runcing. Hingga ia dijuluki, Jendral bambu runcing.

     10 November, diperingati sebagai hari pahlawan. Terkisahkan dalam perlawanan pertama setelah kemerdekaan diproklamirkan. Jutaan nyawa melayang. Pengabdi negara, pahlawan bangsa gugur di medan perang. Bambu runcing pegangan melawan kolonialisme.

      Kilas sejarah, kita mundurkan lagi. Pada tahun 1942, tentu kemerdekaan belumlah diproklamirkan. Tepat tanggal 1 Maret, Jepang datang dengan segala tutur manisnya. Hingga mencapai kesepakatan, mengusir pihak kolonial Belanda. Belanda pun menyerah di tanggal 8 Maret. Pelucutan senjata terkoordinir dengan baik. Hingga proklamasi di proklamirkan, Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Dan munculah maklumat pada tanggal 31 Agustus, agar mengibarkan bendera merah putih di setiap wilayah. Tertanggal 1 September pun semua terealisasi. Namun, semua belum berjalan mulus. 19 September di malam hari pukul 21:00, pihak kolonial Belanda berbuat ulah, di bawah pimpinan W. V. Ch. Ploegman, mengibarkan bendera merah, putih, biru. Tak ayal, perundingan antara Residen Surabaya Soedirman terjadi di Hotel Yamato/Yamato hoteru/hotel Oranye, dan yang sekarang hotel Majapahit. Dan beralamat di Tunjungan, Surabaya. Perundingan untuk menurunkan bendera pun tak membuahkan hasil, malah konflik pecah setelah meletupnya pistol W. V. Ch. Ploegman.  Bertambah pelik dengan dicekiknya W. V. Ch. Oleh Sidik menegarai ke luarnya Soedirman dan Haryanto dari hotel Yamato. Setelah semua terkendali, Soedirman dan Hariyanto kembali, dan bersama dengan Kusno Wibowo menurunkan bendera Belanda. Tak pelak, insiden perobekan Belanda menjadi merah putih, sebagai tanda kedaulatan negara Indonesia, sebagaimana mustinya. Pekik 'merdeka' pun tak tertahan, berkumandang ke seantero nusantara.

     Hampir lupa, waktu bergulir begitu cepat. Hingga sempat menggoda tujuanku semula untuk meraih cita, suatu kemerdekaan masa kini yang sesungguhnya. Meninggalkan kebodohan yang bisa jadi celah penjajahan. Aku pun segera beranjak, meninggalkan sang bocah dengan kebanggaannya terhadap sang merah putih yang ia kibarkan. Dan segera meraih cita, rezki, dalam artian kemerdekaan masa kini. Tanpa kuhitung lagi, aku langsung berlari. Menancapkan keoptimisan diri, meraih cita dan impian.

Tri witjaksono

Comments

Popular posts from this blog

Ibu dan Senja Beradu Pilu

Kata pendamping dialog tag

Cerita Si Rapuh